Di usianya yang telah menginjak kepala tujuh, Mbah Tinah tetap menunjukkan semangat baja dengan mengayuh sepeda tuanya demi menjajakan sayur-mayur segar dan aneka jajanan dari kampung ke kampung. Setiap fajar menyingsing, ketika embun masih tebal menyelimuti jalanan, kayuhan kakinya yang renta namun pasti sudah terdengar memecah keheningan pagi. Beban berat dari keranjang bambu berkerumun sayuran di jok belakang sepedanya tak pernah menyurutkan senyum ramah di wajahnya yang dihiasi guratan usia.
Bagi warga kampung, kehadiran Mbah Tinah bukan sekadar urusan jual beli dapur, melainkan simbol kegigihan hidup yang menginspirasi. Gurauan hangat dan sapaan tulusnya selalu dinanti para ibu rumah tangga yang bersiap memasak di halaman rumah. Meski peluh kerap bercucuran membasahi pakaiannya di bawah terik matahari, Mbah Tinah selalu menolak untuk menyerah pada rasa lelah, membuktikan bahwa usia hanyalah deretan angka selama tekad untuk mandiri tetap menyala di dalam dada.
Sehat selalu untuk Mbah Tinah, laris manis tanjung kimpul.









